KISAH MENAKJUBKAN TENTANG SABAR SYUKUR
KEPADA ALLAH
Diterbitkan pada 25 May 2010 Klik: 41236
Bagi
orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama
yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits,
terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat
Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling
banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh
karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering
diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot
menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukan akan
kuatnya keimanannya kepada Allah.
Nama
beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah
dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari
sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu 'anhuma-
. Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid
bin Abdilmalik.
Abdullah bin Muhammad berkata, "Aku keluar menuju tepi pantai dalam
rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala
aku tiba di tepi pantai tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di
suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah
yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua
kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu
anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu
berkata, "Ya
Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa
syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan
Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau
ciptakan""
Abdullah
bin Muhammad berkata, "Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku
akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia
faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu
merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.
Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu
kukatakan kepadanya, "Aku mendengar engkau berkata "Ya Allah,
tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa
syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan
Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau
ciptakan", maka nikmat manakah yang telah Allah anugrahkan kepadamu
sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut??, dan kelebihan apakah yang
telah Allah anugrahkan kepadamu hingga engkau menysukurinya??"
Orang
itu berkata, "Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku
kepadaku?, demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga
membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga
menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau
memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin
membuat aku bersyukur kepadaNya karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku
berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku
maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk
membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa
berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat
tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika
aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan
dirinya maka tolonglah engkau mencari kabar tentangya –semoga Allah merahmati
engkau-". Aku berkata, "Demi Allah tidaklah seseorang berjalan
menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat
besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan
untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau". Maka
akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku
sampai di suatu gudukan pasir, tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut
telah diterkam dan di makan oleh binatang buas, akupun mengucapkan inna lillah
wa inna ilaihi roji'uun. Aku berkata, "Bagaimana aku mengabarkan hal ini
kepada orang tersebut??". Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang
tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Tatkala aku
menemui orang tersbut maka akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab
salamku dan berkata, "Bukankah engkau adalah orang yang tadi
menemuiku?", aku berkata, "Benar". Ia berkata, "Bagaimana
dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?". Akupun berkata kepadanya,
"Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihissalam?",
ia berkata, "Tentu Nabi Ayyub ‘alaihissalam ", aku berkata,
"Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?,
bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?",
orang itu berkata, "Tentu aku tahu". Aku berkata, "Bagaimanakah
sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?", ia berkata, "Nabi Ayyub
bersabar, bersyukur, dan memuji Allah". Aku berkata, "Tidak hanya
itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya", ia
berkata, "Benar". Aku berkata, "Bagaimanakah sikapnya?", ia
berkata, "Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah". Aku berkata,
"Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan
orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?", ia
berkata, "Iya", aku berkata, "Bagaimanakah sikap nabi
Ayyub?", ia berkata, "Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah,
lagsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!". Aku berkata,
"Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam
keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah
melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau". Orang itu berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak
menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya
dengan api neraka", kemudian ia berkata, "Inna lillah
wa inna ilaihi roji'uun", lalu ia menarik nafas yang panjang lalu
meninggal dunia. Aku berkata, "Inna lillah wa inna ilaihi
roji'uun", besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja
maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak
bisa melakukan apa-apa[1]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di
tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis. Tiba-tiba datang
kepadaku empat orang dan berkata kepadaku "Wahai Abdullah, ada apa
denganmu?, apa yang telah terjadi?". Maka akupun menceritakan kepada
mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, "Bukalah wajah
orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!", maka akupun membuka wajahnya,
lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu
mereka berkata, "Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal
yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala
orang-orang dalam keadaan tidur!!". Aku bertanya kepada mereka,
"Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?", mereka
berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu 'Abbas, ia sangat cinta kepada Allah
dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya
dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu
merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan
perbatasan. Tatkala tiba malam hari akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi
ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga
sambil membaca firman Allah
}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ{ (الرعد:24)
"Keselamatan
bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka
alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS. 13:24)
Lalu
aku berkata kepadanya, "Bukankah engkau adalah orang yang aku
temui?", ia berkata, "Benar", aku berkata, "Bagaimana
engkau bisa memperoleh ini semua", ia berkata, "Sesungguhnya Allah
menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh
kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur
tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah
baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam kaeadaan di depan khalayak
ramai"
Penulis:
Firanda Andirja

Tidak ada komentar:
Posting Komentar